Dalam kasih dan rencana-Nya yang indah, Tuhan mempersatukan putra-putri kami dalam pernikahan yang kudus
Wiharto
Wiharto Yuwono, S.T.
Putra pertama dari dua bersaudara
Tn. Ir. Muljono Juwono & Ny. Tinasari
Tuhan Allah berfirman: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Kejadian 2:18
Dalam kasih dan rencana-Nya yang indah, Tuhan mempersatukan putra-putri kami dalam pernikahan yang kudus
Putra pertama dari dua bersaudara
Tn. Ir. Muljono Juwono & Ny. Tinasari
Lokasi
GKPB Fajar Keagungan Cirebon
Jl. Gudang 130A, Cirebon
Lokasi
Cahaya Ballroom Lantai 3A
Jalan Karanggetas No 23, Cirebon
Apabila keadaan kurang memungkinkan
bagi Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir, kami persilakan mengikuti acara pernikahan kami melalui Live Streaming
Abadikan momen bahagia kami, dengan Wedding Frame yang telah kami sediakan. Silakan klik link di bawah ini untuk menggunakan Wedding Frame kami :
Sylvi dan Riki pertama kali diperkenalkan oleh keluarga besar pada sebuah acara pernikahan sepupu Sylvi, tepatnya pada tanggal 15 April 2025. Di tengah suasana hangat penuh doa dan kebahagiaan, keduanya memang sengaja diperkenalkan oleh keluarga.
Seiring berjalannya waktu, pada tanggal 11 Juni 2025 awal pertama Riki dan Sylvi memulai berkomunikasi melalui handphone. Mereka saling berbagi cerita, lalu saling membuka diri sehingga membuat hubungan mereka terasa begitu berharga. Sebagaimana mereka menjadi diri mereka sendiri, tanpa ada kepura-puraan di antara mereka. Riki memperlakukan Sylvi dengan penuh cinta dan kasih. Sylvi merasa aman untuk menjadi dirinya apa adanya.
Ada sebuah momen yang semakin menguatkan hubungan mereka. Pada tanggal 23 Juni 2025, Riki memberanikan diri datang dari Jakarta ke Bayung Lencir untuk bertemu dengan keluarga Sylvi. Mereka berbincang dan makan bersama. Orang tua Sylvi pun memperkenalkan Riki kepada tante, om, dan nenek Sylvi. Dengan penuh rasa syukur, Riki diterima dengan hangat. Sikapnya yang dewasa dan pengertian terasa sangat selaras dengan Sylvi yang sedang beranjak dewasa. Sylvi banyak belajar banyak hal dalam hidup.
Tidak lama setelah itu, Sylvi dan Riki melakukan perjalanan ke Padang. Sylvi tengah mendampingi kakaknya dalam proses masuk perguruan tinggi, sementara Riki juga hendak bersilaturahmi dengan keluarganya yang berada di sana. Meski mereka tinggal di rumah keluarga masing-masing, mereka tetap meluangkan waktu untuk saling bertemu. Riki juga mengajak Sylvi bersilaturahmi untuk bertemu keluarganya di sana. Momen itu semakin menegaskan bahwa hubungan mereka bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga menyatukan dua keluarga.
Ketika hari pengumuman hasil tes kakak Sylvi tiba, Sylvi harus kembali ke Jakarta dalam rangka menghadiri wisuda kakak sepupu. Sebelum kembali ke Jakarta, Riki memutuskan untuk mengantar Sylvi terlebih dahulu ke Bayung Lencir agar ia sampai dengan selamat. Sehari setelah itu, Sylvi memutuskan untuk mengantarkan Riki ke bandara karena Riki harus kembali lagi ke Jakarta. Perjalanan panjang yang ditempuh bolak-balik oleh Riki dan Sylvi adalah wujud perhatian yang memiliki makna mendalam.
Setelah itu, Sylvi berangkat ke Jakarta bersama tantenya. Di Jakarta, Sylvi dan Riki kembali bertemu. Kali ini, Riki memperkenalkan Sylvi kepada keluarga besarnya. Sylvi disambut dengan hangat seperti seseorang yang telah lama dinantikan kehadirannya.
Pada tanggal 10 Oktober 2025, Sylvi dan Riki mengikat komitmen dalam sebuah acara pertunangan. Hari itu menjadi penanda bahwa perjalanan yang dimulai dari sebuah pertemuan sederhana telah tumbuh menjadi keyakinan yang kuat.
Sejak saat itu, mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Mereka melangkah bersama dengan doa dan restu keluarga, cinta yang tumbuh dalam ketulusan.
Sylvi & Riki
Berkomitmen untuk membangun rumah tangga yang penuh cinta dan keberkahan. 🤍💍
“Kita tidak saling mencari, namun dipertemukan Allah SWT tanpa tergesa-gesa. Hati kita saling mengenal satu sama lain, rasa nyaman tumbuh seiring berjalannya waktu. Dari obrolan yang penuh perhatian tumbuh keyakinan, hingga pada akhirnya kita memilih untuk menuju satu rumah, satu nama, dan satu doa yang sama.”